Pernah ngebayangin belajar setiap hari barengan babi? Mungkin jika di Indonesia, terlebih di Jakarta hal ini sangat tidak biasa, namun di Jepang, ternyata ada lho sekolah yang mengizinkan muridnya untuk memelihara babi di sekolah, tapi.. di post kali ini bukan tentang diizinkan atau tidak diizinkannya memelihara babi di sekolah, melainkan mengenai makna dibalik film Jepang yang berjudul “School days with a pig”
Sebenarnya saya sudah pernah membahas film ini di twitter secara singkat, namun biar lebih asik gimana kalo saya bahas juga di blog ini? setuju?? *setuju* [nanya sendiri, jawab sendiri]
Film ini menceritakan kisah seorang guru (wali kelas) dengan kelasnya yang memelihara seekor babi di sebuah sekolah di Prefektur Osaka. Film ini diawali dengan Mr. Hoshi (Satoshi Tsumabuki), wali kelas dari kelas 6, membawa babi ke sekolah. Tujuannya umumnya adalah untuk mengajarkan kepada anak-anak bagaimana memelihara seekor binatang sepanjang tahun ajaran, dan kemudian memakannya di akhir tahun ajaran, dengan tujuan khusus adalah untuk pemahaman mengenai proses hubungan kehidupan dan makanan.
Awalnya seperti biasa, banyak anak-anak yang cuek dengan kedatangan babi ini (Pichan), namun lama-kelamaan mereka mau memelihara Pichan, memberinya makan, memandikannya, membawanya jalan-jalan, bahkan Pichan tidak lagi menjadi hewan peliharaan, namun bagi kelas 6, Pichan adalah bagian dari kelas 6, dan tanpa terasa ternyata akhir tahun ajaran pun akan tiba.
Disini mulai muncul dilema bagi kelas tersebut, apakah akan memakan Pichan (mengikuti rencana awal) atau memutuskan untuk tetap memeliharanya? Namun, jika memutuskan untuk memelihara Pichan, kelas 6 akan lulus, kelas 6 akan segera meninggalkan sekolah tersebut, lalu siapakah yang akan bertanggung jawab memelihara Pichan?
Sebagian murid kelas 6 yang terlanjur jatuh cinta terhadap Pichan, merasa tidak tega untuk memakan Pichan, namun sebagian juga berpikir realistis dan mengikuti rencana awal untuk memakan Pichan, sebagian lagi juga ada yang berpikir diplomatis, karena kelas 6 lah yang membawa Pichan, memelihara Pichan, maka kelas 6 juga lah yang harus menentukan nasib akhir Pichan.

seorang anak yang menggambarkan nasib pichan di tengah diskusi panjang
"There is heaven for piggies, after all..." (@thoughtsonfilm)
"Saya lah yang telah mebawa Pichan ke sekolah ini, maka ini sudah menjadi tanggung jawab saya dan kelas saya untuk menentukan nasib Pichan ke depannya"
Bagi teman-teman yang tidak suka menonton film dengan banyak dialog mungkin akan sedikit bosan dengan film ini, namun menurut saya film ini sarat akan pesan, terutama pesan untuk belajar berdemokrasi, mengemukakan pendapat, dan mengambil keputusan bersama (musyawarah untuk mufakat).
Disini, meskipun bisa dibilang anak kelas 6 masih berumur anak kecil, namun mereka dengan berani mengungkapkan pikirannya masing masing, ada yang tetap “kekeuh” tidak mau makan Pichan karena tidak tega, ada juga yang memberikan usul untuk menyerahkan Pichan ke kelas lain (di film ini kelas 3 mau memelihara Pichan), namun karena kelas 3 dianggap masih terlalu kecil ada juga yang tidak menyetujui usulan tersebut, ada juga yang memberikan usul untuk menyerahkan Pichan ke peternakan babi. Yup, di film yang berdurasi 109 menit ini, setengah isi dari film ini adalah mengenai diskusi dan perdebatan, serta proses menemukan keputusan yang tepat untuk nasib Pichan.
Sang guru pun dengan tenang membimbing anak-anak kelas 6 untuk terus berdiskusi sehingga menemukan keputusan terbaik untuk kelas 6 dan Pichan. Terkadang, anak-anak pun menjejalkan pertanyaan ke Pak Guru, “menurut Pak guru sendiri kita harus bagaimana?”, namun karena dari awal pak guru memang berencana untuk memakan Pichan, maka ia memberi jawaban akan memakan Pichan. Namun, lagi-lagi hal itu tidak menyurutkan semangat anak kelas 6 untuk tidak memakan Pichan (biasanya kan kalo anak kecil, jika orang dewasa bilang A, maka mereka mau tidak mau mengikuti si A, namun di film ini tidak), dan untuk orang dewasa yang biasanya juga suka memaksakan kehendak, di film ini diperlihatkan lagi-lagi bagaimana cara bertoleransi untuk menemukan seuatu keputusan.
Menarik memang, dari ide cerita yang sederhana ternyata ada banyak sekali makna yang tesirat. Film ini pun ternyata terinspirasi dari “true event”, meski pasti film ini diwarnai dengan dramatisir, tangis, serta ke-imutan-anak-anak kelas 6, namun sudah pasti inti dari cerita adalah sama, dan saya sangat merekomendasikan film ini bagi pendidik (guru) untuk menonton film ini di kelas, atau bagi ayah-ibu untuk menontonnya bersama keluarga, bagi seorang kakak untuk mengajak adiknya menonton film ini.
Sebagai catatan film ini telah memenangkan beberapa award, diantaranya adalah 28th Tokyo International Film Festival, kategori Audience Award (2008) dan jujur saya sangat terkesan dengan film ini, di tengah film yang penuh dengan efek cgi, hantu, drama percintaan, pembunuhan, dll, ternyata film ini berhasil membawa saya menjadi seperti salah seorang murid di kelas 6 tersebut. Bahkan saya pun terkadang mengangguk, atau menggeleng ketika mendengar usulan dari anak-anak kelas 6



