October Escape, 5D4N in Malang (Day 2)


Pagi pun tiba, setelah menikmati sarapan, kami menyiapkan kaki kembali untuk berjalan. Rute hari ini adalah ke Batu (Coban Rondo – Labirin). Kami berjalan sedikit ke depan kantor BCA dekat hotel lalu naik angkot ADL ke terminal Lundungsari dengan tarif Rp 4.000/orang, dari terminal perjalanan kami lanjutkan dengan Bus ke arah Jombang, namun sebelumnya bilang dulu ke kernet bahwa akan turun di Coban Rondo, tarif bus Rp 10.000/orang.

Di dalam bus kami bertemu dengan bapak-bapak ramah yang sepertinya heran melihat kami yang dari tadi nanya mulu ke supir/kernet. Beliau dulu pernah di Jakarta tapi pusing karena macet dimana-mana (hahaha apalagi sekarang pak, cobain lagi deh main ke Jakarta :p), setelah ngobrol lumayan banyak si bapak berpesan “Hati-hati kepeleset mba, jalannya masih licin, sama nanti kalau sudah tahu indahnya Coban Rondo kasih tau temen-temennya dari Jakarta biar mampir”. Kami menjawab pesan bapak tersebut dengan senyuman mengiyakan.

Dari gerbang Coban Rondo harus berjalan kurang lebih 2,5km untuk sampai ke Air terjun Coban Rondo, namun tenang… di sini juga tersedia ojek. Rp 20.000/orang untuk sampai ke atas. Karena takut nyasar kami pun memutuskan untuk naik ojek.

Coban Rondo Oktober 2015 yuvitapohan yuvita.wordpress.com
Selamat datang di Coban Rondo, HTM Rp 12.000/orang

Menurut legenda, Coban Rondo bermula dari sepasang pengantin baru Dewi Anjarwati dan Baron Kusumo yang melakukan perjalanan ke daerah asal si suami yaitu Gunung Anjasmoro. Di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Perkelahian pun terjadi, Dewi Anjarwati pun bersembunyi di Coban atau air terjun. Perkelahian tersebut menewaskan Raden Baron Kusumo dan Joko Lelono. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda dimana dalam bahasa jawa disebut Rondo. Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan Coban Rondo (Air terjun Janda). Konon di bawah air terjun terdapat gua tempat tinggal tempat persembunyian Dewi Anjarwati dan batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya.

Coban Rondo Oktober 2015 yuvitapohan yuvita.wordpress.com

Salah satu monyet yang menyambut kedatangan kami, hiihi. Berbeda dengan monyet-monyet yang ada di Hutan Kota Ir Juanda Bandung, monyet disini lebih berani sama manusia, sampai ada satu monyet yang saya lihat lagi menggondol satu plastik berisi gorengan 😀 entah dia ngambil darimana

Sebenarnya jika curah hujan cukup tinggi, air terjun ini bisa lebih deras dan jika beruntung kita bisa melihat pelangi di bawahnya. Namun, sayang di Malang saat ini belum turun hujan.

Setelah puas melihat air terjun janda dan bermain bersama monyet-monyet di sekitar, kami melanjutkan perjalanan ke Labirin (Maze) Coban Rondo yang lagi HEITZ banget di Instagram, kekinian lah pokoknya XD. Karena kami sudah tahu medan yang akan dilewati kami pun berjalan turun ke labirin. Sekitar 1,5 km lebih jarak dari Air terjun ke Labirin, namun tidak terasa karena pemadangan sepanjang perjalanan sangat indah. Tapi ya siap-siap aja diliatin orang-orang ya, bahkan warga sekitar saja pakai motor, eh ini dua gadis malah jalan panas2an #eaagadis

Jalan menuju Labirin dari Coban Rondo yuvitapohan yuvita.wordpress.com

Jalan menuju Labirin dari Coban Rondo. Tenang itu bukan hobbit yang jalan, itu SAYA!

YEAY! We made it, sampailah kami di labirin. Untuk bisa masuk ke labirin ini kudu bayar HTM Rp 10.000/orang. Well ternyata labirin ini tidak sulit, (ya iyalaaah, kalau sulit mah Maze Runner, kyaaa Minho kyaaaaaaa~~). Jika mau mendapatkan foto yang bagus, pengunjung bisa naik ke atas menara yang disediakan oleh pengelola.

Maze, labirin Coban Rondo yuvitapohan yuvita.wordpress.com

Maze, labirin Coban Rondo yang kekinian 🙂

Maze, labirin Coban Rondo yuvitapohan yuvita.wordpress.com
Gaya dulu di depan Maze supaya bisa di upload di IG

Karena waktu yang sudah sore, kami membatalkan rencana kami ke Selecta ataupun pemandian air hangat Cangar. Kami turun kembali ke Malang dengan naik bus yang sama dan beristirahat serta makan malam di Malang.

Untuk makan malam kali ini, kami mencicipi rumah makan yang terkenal di Malang, Inggil Museum Resto ibaratnya kalau di Jakarta rumah makan ini seperti Cafe Batavia (tapi untuk rasa dan harga saya rasa rumah makan ini jauh lebih bersahabat dari yang di Jakarta, haha)

Inggil Museum Resto, Rumah Makan Inggil Oktober 2015 yuvitapohan yuvita.wordpress.com

Selamat datang di Inggil Museum Resto

Sesuai dengan namanya, di rumah makan ini selain makan pengunjung juga wisata sejarah. Staffnya pun bak-baik, kami bahkan difotoin tanpa diminta, hahha #keliatanyeturislokalnye~. Dengan berakhirnya makan malam di sini, berakhir juga perjalanan hari ke dua kami di Malang. 3 hari lagi di Malang, ngapain lagi ya….

*ceritanya nyambung di post selanjutnya*

so… See you in another post 🙂

Advertisements